Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Minggu, 17 Agustus 2008

Cara Mengatasi Sex Bebas

Cara Mengatasi Sex Bebas



PENDIDIKAN SEKS
Banyak sekali perbedaan persepsi mengenai pendidikan seks. Perbedaan persepsi ini berimplikasi pada masalah perlu dan tidaknya pendidikan seks diberikan kepada remaja. Sementara dinamika persoalan seputar seksualitas disekeliling kita sudah sedemikian 'hebat', perlu dan tidaknya remaja mendapat pendidikan seks masih menjadi bahan perdebatan.
1. Apakah pendidikan seks itu ?Pendidikan seks merupakan sebuah diskusi yang realistis, jujur, dan terbuka; bukan merupakan dikte moral belaka. Dalam pendidikan seks diberikan pengetahuan yang faktual, menempatkan seks pada perspektif yang tepat, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri), penanaman rasa percaya diri dan difokuskan pada peningkatan kemampuan dalam mengambil keputusan.
Dalam pengambilan keputusan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengetahui informasi, mempertimbangkannya, mengambil keputusan, dan ketrampilan mengkomunikasikan.
Ada 6 prinsip dasar yang harus termuat dalam pendidikan seks, antara lain;
Perkembangan manusia; anatomi, reproduksi dan fisiologi.
Hubungan antar manusia; keluarga, teman, pacaran, dan perkawinan.
Kemampuan personal; nilai, pengambilan keputusan, komunikasi, dan negosiasi.
Perilaku seksual; abstinence (puasa seks) dan perilaku seks lain.
Kesehatan seksual, meliputi: kontrasepsi, pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS), AIDS, aborsi, dan kekerasan seksual.
Budaya dan masyarakat; peran gender, seksualitas dan agama.
Dengan adanya pendidikan seks bagi remaja, diharapkan remaja dapat menempatkan seks papa perspektif yang tepat, dan mencoba mengubah anggapan negatif tentang seks.
2. Apakah arti seks, seksual, seksualitas dan hubungan seks itu?Menurut kamus Bahasa Indonesia, kata seks mempunyai arti jenis kelamin, sesuatu yang dapat dilihat dan ditunjuk. Jenis kelamin ini memberi kita pengetahuan tentang suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Sedangkan seksual berarti yang ada hubungannya dengan seks atau yang muncul dari seks, misalnya pelecehan seksual yaitu menunjuk kepada jenis kelamin yang dilecehkan.
Istilah seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas. Diantaranya adalah dimensi biologis, psikologis, sosial, perilaku, dan kultural. Dilihat dari dimensi biologis, seksualitas berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin. Termasuk didalamnya adalah bagaimana menjaga kesehatan, memfungsikan dengan optimal secara biologis; sebagai alat reproduksi, alat rekreasi dan dorongan seksual.
Dari dimensi psikologis, seksualitas berhubungan erat dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran jenis, dan perasaan terhadap seksualitas sendiri.
Dimensi sosial menyorot kepada bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia, bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pada akhirnya perilaku seks kita.
Dimensi perilaku menunjukkan bagaimana seksualitas itu diterjemahkan menjadi perilaku seksual. Perilaku seksual merupakan segala bentuk perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan seksual.
Dimensi kultural menunjukkan bagaimana perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.
Dan istilah seks mempunyai arti hubungan kelamin sebagai salah satu bentuk kegiatan penyaluran dorongan seksualnya.
3. Bagaimana jika pendidikan seks diberikan kepada remaja ?Kebanyakan orang tua beranggapan bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan seks. Hal ini tentunya membuat orang tua merasa khawatir, apabila dengan pemberian informasi tersebut justru remaja cenderung untuk mencobanya. Untuk itu perlu diluruskan kembali pengertian tentang pendidikan seks. Pendidikan seks berusaha untuk menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks.
4. Apakah remaja perlu pendidikan seks ?Tentu saja, karena remaja yang sedang mengalami masa pubertas mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan mulai timbul rasa ketertarikan pada lawan jenisnya. Mereka berusaha mencari tahu tentang hal itu. Mereka bingung harus bertanya kepada siapa, apakah kepada teman atau bahkan kepada orang tuanya sendiri. Di pihak lain, arus informasi memberikan tawaran yang mengarah ke permasalahan seksual yang vulgar. Pada kenyataannya, banyak media massa justru cenderung menjerumuskan remaja. Maka dalam hal ini pendidikan seks diperlukan untuk menjembatani antara rasa keingintahuan remaja tentang hal itu dan berbagai tawaran informasi yang vulgar, dengan cara pemberian informasi tentang seksualitas yang benar, jujur, lengkap, dan disesuaikan dengan kematangan usianya.
5. Apakah pendidikan seks dapat mencegah remaja untuk tidak melakukan perilaku seks tertentu, misalnya hubungan seks ?Dengan adanya pengetahuan atau informasi aktual yang benar dan utuh serta perilaku yang bertanggung jawab, misalnya risiko hamil, maka remaja akan berpikir dua kali untuk melakukannya yang cenderung yang bersikap coba-coba itu. Remaja akan terbantu dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
6. Mengapa pendidikan seks sering dipandang tidak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai ketimuran?Sebenarnya pendidikan seksual bermaksud memberikan pengetahuan dan pandangan yang seluas-luasnya dari berbagai sudut pandang serta memberikan informasi yang benar dan faktual kepada remaja mengenai seksualitas, sehingga remaja memiliki pengetahuan tentang seksualitas secara lengkap.
Remaja diajak berdiskusi mengenai pilihan-pilihan perilakunya berdasarkan pengetahuan yang didapat mengenai perilaku tersebut, risikonya, nilai agama yang dianut, nilai keluarga, dll. Sehingga keputusan yang diambil remaja lebih pada pemikiran yang mantap, matang dan bukan karena keharusan ataupun tekanan.
Perlu adanya pengakuan terhadap adanya norma pribadi yang berbeda-beda pada setiap orang terlepas dari nilai dan norma yang ada pada agama dan masyarakat. Kita juga memberikan pendampingan pada remaja untuk pengambilan keputusan dan tidak meninggalkan remaja begitu saja setelah mereka mendapat pendidikan seks. Jadi kalau ada pendapat bahwa pendidikan seks itu tidak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai ketimuran, itu lebih disebabkan karena perbedaan persepsi tentang pendidikan seks itu sendiri.
7. Mengapa masyarakat pada umumnya masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah seksualitas ?Ada banyak faktor yang membuat masyarakat tabu membicarakan hal-hal yang menyangkut seksualitas, antara lain :
faktor budaya yang melarang pembicaraan mengenai seksualitas di depan umum, karena dianggap sebagai sesuatu yang porno dan sifatnya sangat pribadi sehingga tidak boleh diungkapkan kepada orang lain.
pengertian seksualitas yang ada di masyarakat masih sangat sempit, pembicaraan tentang seksualitas seolah-olah hanya diartikan kepada hubungan seks. Padahal secara harafiah seks artinya jenis kelamin, sama sekali tidak porno karena setiap orang tentu memiliki alat kelamin. Seksualitas sendiri artinya segala hal yang berhubungan dengan jenis kelamin, termasuk bagaimana cara kerjanya dan cara merawat kesehatannya agar tetap dapat berfungsi dengan baik.
8. Apakah setiap orang butuh pendidikan seksualitas ?Setiap mahluk hidup memiliki naluri seksualitas sendiri-sendiri, begitu juga dengan manusia. Kita semua memiliki dimensi seksualitas, hanya saja kadang-kadang kita tidak menyadarinya. Pendidikan seksual akan memberikan bekal pengetahuan pada seseorang agar lebih memahami dirinya sendiri, sehingga mampu menjaga kesehatannya dengan lebih baik, dan mengambil keputusan yang terbaik untuk hal-hal yang berkaitan dengan seksualitasnya.
9. Perlukah dibuat kurikulum pendidikan seksualitas untuk orang tua dan remaja ?Akan lebih baik jika pendidikan seksualitas diintegerasikan dalam kurikulum. Sebab kenyataannya, tanpa disadari setiap orang perlu memahami segi seksualitasnya. Bagi orang tua, pendidikan seksualitas sangat perlu karena jika orang tua sendiri kurang memahami pengetahuan mengenai seksualitas maka ia tidak dapat menjelaskan atau tidak tahu bagaimana cara mengkomunikasikan kepada anak-anaknya. Sedangkan remaja memerlukan informasi yang tepat tentang seksualitas karena mereka memerlukan informasi yang tepat tentang seksualitas, agar remaja mampu mengambil keputusan yang berkaitan dengan seksualitas.
10. Kapan saat yang tepat untuk memberikan pendidikan seksualitas bagi anak dan remaja ?Bisa dimulai sejak dini dengan selalu menjaga kebersihan alat kelaminnya, menanamkan kesadaran jenis kelaminnya dan perbedaan dengan lawan jenisnya. Sejak usia dini diusahakan untuk memberikan informasi yang benar mengenai seksualitas.
Pada usia 6 sampai 12 tahun dapat diberikan penjelasan tentang terjadi- nya proses pembuahan ovum oleh sperma, membentuk pandangan anak tentang seksualitas, menjelaskan perbedaan seksual laki-laki dan perempuan dengan bahasa dan nama yang tepat dalam menunjuk anggota tubuhnya, mengenal dan menghargai seluruh anggota tubuh termasuk organ reproduksi, mengerti tentang keluarga, tujuan dan kewajibannya supaya menjadi anggota keluarga yang baik dengan mengikutsertakan rasa setia, kasih sayang, cinta, dan rasa saling menghormati. Pendidikan seksualitas sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan usia.
Saat remaja, pendidikan seksualitas lebih ditekankan pada perubahan yang terjadi selama masa remaja sebagai akibat telah aktifnya hormon seksual, perbedaan yang dialami oleh laki-laki dan perempuan, perbedaan percepatan perkembangan dan pertumbuhan satu dengan lainnya, bagaimana mencapai kematangan seksual, dan pemilihan perilaku seksual (Laycock, S. R., 1979).
11. Bagaimana cara memberikan pendidikan seksualitas yang efektif, tepat sasaran, dan tidak terkesan porno ?Seringkali saat kita berbicara tentang seksualitas akan terkesan vulgar dan porno, hal itu dikarenakan kita tidak terbiasa membicarakannya. Sejak lama orang menganggap tabu membicarakan masalah seksual. Namun kita harus bisa menyadarkan bahwa pembicaraan tentang seksualitas yang dikatakan “vulgar” itu adalah sesuatu yang bersifat ilmiah dan perlu diketahui semua orang sebagai ilmu pengetahuan. Jika pengertian tersebut sudah bisa dipahami maka anggapan porno itu akan hilang dengan sendirinya. Kita sebaiknya tidak membicarakan masalah seksualitas di sembarang tempat, tetapi harus tahu waktu dan saat yang tepat, sehingga akan dihargai oleh orang yang mendengar.Pendidikan seksualitas yang efektif dan tepat sasaran dapat diberikan dengan cara sebagai berikut :
Bersikap jujur, realistis, terbuka terhadap masalah seksualitas.
Memberikan informasi yang factual dan dapat dipercaya.
Informasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak.
Mendukung penentuan nilai pribadi mereka tentang seks dengan mempertimbangkan nilai dan norma di sekitarnya serta berperilaku seks yang sehat termasuk untuk tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.
12. Hal-hal apa yang patut diberikan pada remaja dalam rangka pendidikan seksualitasnya ?Hal-hal yang dapat diberikan untuk pendidikan seksualitas bagi remaja dapat disesuaikan dengan kebutuhan subyektif dan kebutuhan obyektif.
Disesuaikan dengan kebutuhan subyektif, maksudnya tergantung kepada kebutuhan remaja itu sendiri, sejauh mana yang ingin diketahuinya tentang seksualitas. Kita hanya perlu menyesuaikan cara penyampaiannya kepada remaja yang bersangkutan.
Disesuaikan dengan kebutuhan obyektif, maksudnya remaja itu sendiri mungkin tidak membutuhkan, tetapi demi penguasaan pengetahuan si remaja terhadap perkembangan tubuhnya. Hal ini juga disesuaikan dengan tahap perkembangannya.
13. Bagaimana sebaiknya peran remaja dalam pendidikan seks ?Remaja dapat berperan aktif sebagai pendidik sebaya (peer educator) yang membantu menyebarkan informasi tentang pengetahuan seksualitas yang benar kepada teman-temannya atau berperan sebagai partisipan yang mendukung pendidikan seksualitas dengan cara menjadi sumber informasi tentang kebutuhan remaja, apa yang diinginkan, bagaimana pandangan mereka tentang pendidikan seksualitas, aktif dalam kegiatan dan lain-lain.
14. Apa yang diperjuangkan dalam memberikan pendidikan seksualitas ?Misinya adalah remaja yang bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksinya (baik sehat fisik, psikis dan sosial).
Sehat secara fisik maksudnya tidak menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan, tidak tertular penyakit menular seksual, tidak merusak kesehatan fisik diri sendiri maupun orang lain.
Sehat secara psikis misalnya tidak merasa tertekan atau terpaksa, tidak menghambat kepribadian.
Sehat secara sosial artinya mampu menyesuaikan dan mempertimbangkan nilai-nilai sosial di sekitar (agama, budaya, lingkungan) yang berkaitan dengan masalah reproduksi.
Pendidikan seksualitas mengarahkan bagi yang belum aktif secara seksual dengan maksud untuk menunda, memikirkan dan mempertimbangkan kembali sebelum memutuskan untuk berperilakku seksual aktif.Bagi yang sudah aktif secara seksual diarahkan agar melakukan aktivitas seksual yang aman, yaitu:
Setia dengan mitra tunggal.
Gunakan kondom setiap melakukan hubungan seksual. (Rahman, A., Hirmaningsih, 1997).
15. Apakah ceramah dapat membuat orang mengerti tentang pendidikan seksualitas dan apa letak tuntunan moralnya?Ceramah merupakan salah satu cara guna menyebarkan informasi tentang pendidikan seksual dan hanya memberikan aspek pengetahuan kepada masyarakat. Untuk menunjuk pada perubahan perilaku, kita harus melakukan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung seperti : konseling, siaran radio, rubrik di koran, forum diskusi, dan debat remaja dengan mengundang pakar dalam bidang tertentu yang berkaitan, kampanye melalui pengembangan media cetak, pelatihan seksualitas dan pendampingan untuk remaja.
Tuntunan moral yang diberikan bisa berupa pertimbangan dari berbagai sudut pandang, baik secara agama, nilai masyarakat, dan pilihan-pilihan yang lain. Kita tidak memusatkan perhatian pada penilaian benar dan salah, tetapi memberikan informasi yang dapat dijadikan pertimbangan seseorang dalam mengambil keputusan sehingga ia dapat mempertanggungjawabkan perilaku dan risikonya.
Remaja diajak untuk mempertimbangkan berbagai hal yang terkait dalam menentukan segala tindakan yang akan dilakukannya, yaitu hal-hal yang bersifat:
fisik (misalnya tidak membahayakan kesehatan fisik, tidak menimbulkan penyakit),
psikis (misalnya tidak menimbulkan perasaan tertekan, tidak menghambat kepribadian)
sosial dan agama (misalnya tidak bertentangan dengan norma dan agama yang dianut)
Remaja diajak berpikir untuk menentukan pilihannya dan bukan berdasarkan atas dogma semata-mata, tetapi juga karena kesadaran dan mampu mempertanggungjawabkan keputusannya.
Pendidikan seksual yang diberikan berdasarkan pada penghormatan terhadap hak asasi manusia dan tidak bersifat diskriminatif (membeda-bedakan perlakuan).
16. Bagaimana cara mengatasi adanya dorongan-dorongan seks yang kadang muncul secara tiba-tiba, padahal remaja belum menikah ?Dorongan seksual seseorang dipengaruhi oleh hormon-hormon seksual yang telah berfungsi, yaitu hormon testosteron untuk laki-laki sedangkan untuk perempuan adalah hormon progesteron dan estrogen.
Bentuk penyaluran dorongan seks dibedakan menjadi 2, yaitu :
tidak disalurkan sama sekali, dan
disalurkan
Dorongan seks yang tidak disalurkan maksudnya dengan cara mengalihkan pikiran, atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar aktivitas seksual.
Sedangkan dorongan seks yang disalurkan maksudnya adalah, bentuk penyalurannya bias melalui masturbasi atau berhubungan seks dengan pasangannya.
17. Mengapa pada usia remaja dorongan seks meningkat, dan bagaimana cara mengurangi gairah seks yang meningkat ?Seorang remaja yang mengalami masa pubertas berarti sedang mengalami pertumbuhan fisik dan pematangan fungsi seksual. Pertumbuhan ini juga dipengaruhi oleh hormon-hormon seksual yang telah berfungsi yaitu testosteron pada laki-laki, dan progesteron serta estrogen pada perempuan. Hormon-hormon ini jugalah yang berpengaruh terhadap dorongan seksual.
Saat masa pubertas ini, seseorang mulai merasakan peningkatan dorongan seksualnya. Ada beberapa alternattif untuk mengurangi gairah seks yang menggebu-gebu, yaitu menghindari bacaan atau gambar-gambar porno atau erotis, mencari kegiatan positif untuk mengisi waktu luang, mengembangkan diri serta menyalurkan energi psikis kepada hal-hal yang positif dan produktif seperti olahraga atau menyalurkan bakat seni.
18. Bagaimana jika ingin mendapatkan pengetahuan tentang seks itu ?Pertama-tama yang perlu kita pahami adalah, bahwa berbicara tentang masalah seks bukanlah sesuatu yang kotor atau tidak pantas dibicarakan. Hal ini disebabkan karena pengertian seks dikonotasikan dengan hubungan kelamin, sehingga masih dianggap tabu dan dianggap sebagai konsumsi orang dewasa saja, sedangkan remaja atau siapapun yang belum menikah tidak boleh membicarakannya.
Kita bisa mencari informasi dan pengetahuan mengenai seks melalui buku-buku; pengetahuan tentang seks yang lengkap dan benar; rubrik konsultasi yang diasuh oleh lembaga-lembaga atau orang-orang yang kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan; siaran-siaran radio; pusat-pusat konsultasi remaja; guru; kakak atau orangtua yang dianggap tahu.
19. Apakah yang dimaksud dengan free sex itu ?Istilah free sex sebenarnya tidak ada. Yang ada ialah pergaulan bebas.Banyak orang melakukan hubungan bebas karena dipengaruhi berbagai hal, misalnya faktor dari dalam keluarga sendiri (seperti cari sensasi, kecewa, atau frustrasi); juga karena pengaruh lingkungan, media massa atau kebudayaan; atau hanya sekadar mode atau trend yang ada di kalangan remaja itu sendiri.
20. Mengapa pada masa sekarang ini banyak remaja yang tidak dapat mengontrol diri dari pengaruh lingkungan yang negatif ?Pada masa remaja, seorang anak akan menjauh dari orangtuanya dan lebih dekat dengan teman sebayanya, sehingga pengaruh teman sebaya ini sangat kuat dalam menentukan perilaku yang dipilih oleh remaja.
Masa remaja juga merupakan masa pencarian identitas diri dan membina sosialisasi, sehingga jika teman-temannya “mejeng” di mal kemungkinan besar perilaku ini akan diikuti oleh remaja lainnya agar dianggap mengikuti mode yang berlaku, sebagai saran sosialisasi dengan teman-teman sebaya dan memperluas pergaulan.
Tetapi selain hal-hal yang positif, “ngeceng” di mal juga dapat menimbulkan hal yang negatif, seperti pola hidup konsumtif pada remaja. Jika waktu yang diluangkan untuk pergi ke mal terlalu banyak, tentu akan dapat mengganggu aktivitas lain mungkin lebih berguna.
Remaja cenderung lebih mengikuti kata-kata teman sebayanya daripada kata-kata orangtua dan norma agama, sehingga kontrol dirinya menjadi berkurang. Apa yang dikatakan oleh teman-temannya langsung diikuti walaupun belum tentu benar.
Penyebab kurangnya kontrol diri pada remaja antara lain: kurang percaya diri; kurangnya ketrampilan berkomunikasi (misalnya: kesulitan menolak ajakan teman); tidak bisa bersikap tegas; keagamaan yang kurang terinternalisasi; serta rendahnya kemampuan dalam mengambil keputusan.
Saat anak memasuki usia remaja, dukungan dan kedekatan dengan keluarga sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
21. Bagaimana cara mengefektifkan kontrol sosial dalam perilaku bebas seperti yang banyak terjadi akhir-akhir ini?Ada beberapa hal dalam diri remaja yang mempengaruhi kepribadiannya, yaitu kepercayaan diri, ketrampilan berkomunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Hal-hal dalam diri remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan, seperti pola asuh dalam keluarga, norma yang ada di dalam masyarakat, dan pendidikan yang mengajak remaja untuk berpikir. Untuk mengaktifkan kontrol sosial tentu saja dibutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, seperti orangtua, guru, masyarakat dan remaja itu sendiri. Semua pihak harus ikut berperan serta, karena antara satu pihak dan lainnya saling berkait dalam pembentukan perilaku remaja.
Sumber : Buku Tanya Jawab Seputar Seksualitas Remaja.Disusun oleh : Tim Sahabat Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia – Daerah Istimewa Yogyakarta

Tidak ada komentar: